Putaran kedua Super League selalu menghadirkan cerita berbeda. Jika paruh musim pertama kerap menjadi panggung penuh kejutan, paruh kedua adalah arena pembuktian: siapa yang benar-benar layak menjadi juara. Bagi Persib Bandung, status sebagai juara paruh musim bukan sekadar prestasi sementara, melainkan sebuah janji yang harus ditepati. Janji untuk terus berada di jalur juara. Lebih jauh lagi, janji untuk menciptakan sejarah baru sebagai klub pertama di Indonesia yang mampu meraih hat-trick gelar liga.
Tekanan itu nyata. Sebab, mempertahankan gelar selalu lebih sulit dibanding merebutnya. Persib kini tak lagi dipandang sebagai penantang, melainkan sebagai target utama. Setiap lawan datang dengan motivasi ekstra. Setiap pertandingan seolah menjadi “final kecil” bagi tim-tim yang ingin menjatuhkan sang juara bertahan.
Ambisi Besar, Langkah Serius
Manajemen Persib menunjukkan keseriusan dalam menjaga konsistensi tim. Datangnya Layvin Kurzawa—yang pernah bermain di klub besar Prancis, Paris Saint-Germain (PSG), dan pemegang 16 caps timnas Prancis—menjadi sinyal kuat bahwa Persib tak ingin setengah-setengah. Kehadiran pemain dengan pengalaman di level elite Eropa tentu diharapkan memberi dampak besar, baik secara teknis maupun mental. Kurzawa bukan hanya soal kualitas individu, tetapi juga soal aura pemenang dan mental juara yang bisa menular ke ruang ganti.
Selain itu, Persib juga mengamankan jasa Dion Markx, pemain naturalisasi berusia 20 tahun dengan kontrak 2,5 tahun. Langkah ini mencerminkan dua hal: kebutuhan jangka pendek dan visi jangka panjang. Dion diproyeksikan sebagai aset masa depan, tetapi bukan berarti ia hanya disiapkan sebagai proyek. Di tengah padatnya jadwal dan risiko cedera, kedalaman skuad menjadi krusial. Dion bisa menjadi alternatif penting, terutama untuk menambah energi dan dinamika permainan.
Terakhir, ada pula penyerang baru asal Spanyol, Sergio Castel, yang diharapkan bisa menambah daya gedor di lini depan. Kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda ini menegaskan bahwa Persib tidak hanya memikirkan gelar musim ini, tetapi juga keberlanjutan prestasi dalam beberapa musim ke depan.
Meski berada di puncak klasemen paruh musim, Persib belum bisa dikatakan sempurna. Secara statistik, Persib termasuk tim dengan jumlah gol yang relatif sedikit di setiap laga. Ini menjadi indikasi bahwa lini depan belum setajam musim lalu. Banyak kemenangan Persib diraih dengan margin tipis. Dari satu sisi, hal ini menunjukkan mental juara—mampu mengamankan poin dalam situasi sulit. Namun dari sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi alarm.
Dalam kompetisi panjang, efisiensi serangan sangat menentukan. Ketika sebuah tim terlalu sering bergantung pada gol-gol minimalis, risiko kehilangan poin akan selalu mengintai. Terlebih, putaran kedua biasanya diwarnai oleh pertarungan yang lebih ketat, di mana lawan sudah memahami pola permainan dan kelemahan Persib.
Di sinilah peran Kurzawa, dan para pemain kreatif di lini tengah seperti Thom Haye, menjadi penting. Persib membutuhkan variasi serangan, bukan hanya mengandalkan satu skema. Umpan silang, penetrasi dari sisi sayap, tembakan jarak jauh, hingga pergerakan tanpa bola harus lebih terorganisir. Semakin beragam opsi menyerang, semakin sulit Persib dibaca.
Pertahanan sebagai Fondasi
Satu aspek yang patut diapresiasi adalah soliditas pertahanan Persib. Meski tidak selalu tampil dominan, Persib kerap menunjukkan kedisiplinan dalam bertahan. Organisasi lini belakang yang rapi menjadi fondasi utama raihan poin. Dalam konteks perburuan gelar, pertahanan yang konsisten sering kali lebih menentukan dibanding serangan yang spektakuler.
Namun, Persib tetap perlu menjaga keseimbangan. Fokus berlebihan pada pertahanan tanpa peningkatan di lini depan bisa menjadi pedang bermata dua. Target hat-trick gelar menuntut tim yang komplet: kuat bertahan, tajam menyerang, dan stabil secara mental.
Bojan Hodak memberikan sentuhan permainan pragmatis selama menukangi Persib. Setelah melepas Hehanussa Brother ke Persik Kediri, ternyata Bojan langsung menggantinya dengan dua pemain baru di sektor pertahanan. Tentunya itu semakin menunjukkan bahwa menurut Bojan, menyerang memang bisa membuat kita menang, tapi bertahan akan memberikan kita gelar.
Tapi setelah pertandingan melawan PSBS Biak, banyak bobotoh menyuarakan bahwa Persib butuh juru gedor baru, melihat Uilliam Barros dan Ramon Tanque yang tak kunjung konsisten dalam mencetak gol. Publik Bandung merasa Persib perlu mendatangkan pemain baru di lini depan.
Apakah Bojan juga berpikiran yang sama? Dia pun menjawab dengan kedatangan Sergio Castel, penyerang Spanyol berusia 30 tahun.
Putaran kedua bukan hanya soal taktik, tetapi juga soal mental. Tekanan akan semakin besar seiring semakin dekatnya garis finis. Satu hasil imbang atau kekalahan bisa memengaruhi posisi di klasemen sekaligus psikologis pemain.
Peluang Mencetak Sejarah
Pertanyaan besarnya: apakah Persib bisa menciptakan sejarah sebagai klub pertama yang menjuarai liga tiga musim berturut-turut?
Secara realistis, peluang itu ada. Skuad Persib relatif stabil, diperkuat oleh tambahan pemain berkualitas, serta memiliki basis suporter yang luar biasa besar sebagai sumber energi. Namun, peluang tersebut datang bersama tantangan besar. Rival-rival utama tentu tidak tinggal diam. Mereka akan memaksimalkan putaran kedua untuk mengejar ketertinggalan.
Persija Jakarta melakukan perombakan dengan mandatangkan Fajar Faturrahman, Mauro Ziljstra, Shayne Pattynama dan Paulo Ricardo. Persis Solo lebih jor-joran lagi, mereka mendatangkan Miroslav Maricic, Vukasin Vranes, Dusan Mijic, Bruno Gomes, Andrei Alba, Dejan Tumbas, Roman Paparyga, Jefferson Carioca, hingga Luka Dumancic. Tentunya semua klub memaksimalkan jedela transfer putara kedua ini demi menjaga eksistensi di Super League musim depan.
Pada akhirnya, sejarah hanya akan tercipta jika Persib mampu meningkatkan level permainannya. Tidak harus selalu menang besar, tetapi harus lebih efektif, lebih konsisten, dan lebih matang.
Putaran kedua Super League akan menjadi cermin sejati ambisi Persib. Apakah mereka sekadar kuat di paruh musim, atau benar-benar siap menorehkan tinta emas dalam buku sejarah sepak bola Indonesia.
Bagi Persib dan bobotoh, harapan itu tetap menyala. Hat-trick bukan lagi sekadar mimpi. Ia kini berada dalam jangkauan—asal Persib mampu menjadikannya kenyataan di atas lapangan.
Penulis: Edwin Primadi Ardibrata
